Pindanggunung. Pindang Gunung adalah salah satu makanan khas dari Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Lebih tepatnya sering dijumpai di wilayah Kecamatan Parigi, Kecamatan Cijulang dan Kecamatan Cimerak. [1] Pindang ini mirip dengan sop ikan, tapi dibuat dengan bumbu khas Sunda yang kaya akan rempah.
Seiringberjalannya cerita, pedang itu telah diambil oleh seorang malaikat dan dibawa ke Charlemagne, yang kemudian memberinya pada Roland. Baca Juga: Sosok Crazy Rich James Bedford yang Benaran Gokil, Minta Dihidupkan Kembali di Masa Depan
Namundi balik sejarah panjangnya, terdapat berbagai versi terkait penamaan nama 'Muria' pada salah satu gunung purba di Indonesia tersebut. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, Selasa (15/2/2022), penamaan 'Muria' disematkan dari nama salah satu wali songo yang menyebarkan agama Islam di Jawa, khususnya kawasan pegunungan tersebut, yaitu
Inilahasal usul gunung gedang dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik asal usul gunung gedang serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Semoga bermanfaat! Daftar Gunung Paling Angker di Indonesia Hal ini mengundang banyak cerita misteri di Gunung Salak. 2. Gunung Halimun, Jawa Barat Gunung Halimun adalah gunung
Takheran jika gunung bromo menjadi salah satu tempat wisata favorit di jawa timur bagi para pengunjung. Mengenai nama, asal usul gunung bromo dalam bahasa jawa ternyata memiliki nilai tersendiri. Sejarah dan legenda gunung bromo serta asal usul rakyat suku tengger. Gunung bromo mempunyai ketinggian 2.400 meter di.
Gununggunung kapur membentang kokoh di jalan yang mengarah Bandung. Kalau dilihat-lihat lebih detil, sebenarnya Kawasan Karst Citatah ini sangatlah cantik dan memesona. Namun, ada satu bukit yang mencuri pehatian. Bila dilihat dengan jelas, ada pedang raksasa yang menancap di salah satu bukitnya. Sudah tentu, pedang tersebut membuat saya penasaran.
Menurutsumber-sumber arkeologi, Pedang Lar Bango telah ada sejak zaman Sriwijaya dan juga Singasari karena terdapat relief Pedang ini di Candi Panataran, Jawa Timur (diperkirakan pada abad ke 12 M). Hal itu menandakan jika Pedang Lar Bango telah ada sebelum masa itu. Fungsi Pedang Lar Bango adalah untuk berperang, yaitu untuk menusuk
uuwp. - Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Banten yang ibu kotanya juga bernama Pandeglang. Pandeglang ini merupakan kabupaten paling barat yang ada di Pulau Jawa. Luas wilayah Kabupaten Pandeglang mencapai kilometer persegi, yang mencakup beberapa pulau kecil di Samudera kecil itu adalah Pulau Panaitan, Pulau Deli, dan Pulau Tinjil. Selain itu, kabupaten ini juga memiliki Taman Nasional Ujung Kulon. Pandeglang merupakan kabupaten yang memiliki beberapa gunung dan sungai, seperti Gunung Karang, Gunung Pulosari, dan Gunung sungai yang ada di Pandeglang yaitu Sungai Ciliman yang mengalir ke arah barat dan Sungai Cibaliung yang mengalir ke selatan. Sejarah Kabupaten Pandeglang Pemerintahan di Pandeglang sudah ada sejak tahun 1828. Saat itu, berdasarkan Staatsblad Belanda, Pandeglang merupakan bagian dari Kabupaten Serang. Dalam aturan tersebut, Kabupaten Serang memiliki 11 kawedanan, salah satunya Kawedanan Pandeglang. Kawedanan Pandeglang ini terdiri dari dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Pandeglang dan Kecamatan Cadasari. Kemudian bentuk pemerintahan ini diubah melalui Staatsblad Nomor 73 Tahun 1874. Dalam aturan baru ini, Pandeglang resmi berstatus kabupaten.
Tahukah Anda Bandung dulunya adalah sebuah gunung raksasa yang meletus kemudian menjadi kawah raksasa? Dan warga Bandung sekarang tinggal di kawah itu. Berdasarkan penelitian dan ditenggarai ditemukannya bukti-bukti alam terbentuknya daratan Bandung purba yang sangat berharga. Di antaranya kars batu kapur di Citatah, Padalarang, Kab. Bandung Barat, sebagai bukti daerah itu pada zaman Miosen awal 23 – 17 juta tahun lalu pantai utara pantura ada di sana. Kini kawasan itu dikenal antara lain dengan Karangpanganten, Karanghawu, Pasir Bukit Pabeasan, dll. Bandung kota dan sekitarnya, pada masa lampau merupakan danau yang dikenal dengan Danau Bandung. Keadaan yang sekarang terlihat merupakan pedataran yang biasa disebut dengan istilah “Cekungan Bandung” BandungBasin. Daerah sekitar cekungan tersebut, diperkirakan dahulu merupakan tepian danau sehingga banyak diperoleh sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau Koesoemadinata, 2001. Van Bemmelen, 1935, meneliti sejarah geologi Bandung. Pengamatan dilakukan terhadap singkapan batuan dan bentuk morfologi dari gunung api-gunung api di sekitar Bandung. Penelitian yang dilakukan berhasil mengetahui bahwa danau Bandung terbentuk karena pembendungan Sungai Citarum purba. Pembendungan ini disebabkan oleh pengaliran debu gunung api masal dari letusan dasyat Gunung Tangkuban Parahu yang didahului oleh runtuhnya Gunung Sunda Purba di sebelah baratlaut Bandung dan pembentukan kaldera di mana di dalamnya Gunung Tangkuban Parahu tumbuh. Van Bemmelen secara rinci menjelaskan, sejarah geologi Bandung dimulai pada zaman Miosen sekitar 20 juta tahun yang lalu. Saat itu daerah Bandung utara merupakan laut, terbukti dengan banyaknya fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Kondisi sekarang, terumbu tersebut menjadi batukapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba. Bukit pegunungan api diyakini masih berada di daerah sekitar Pegunungan Selatan Jawa. Sekitar 14 juta sampai 2 juta tahun yang lalu, laut diangkat secara tektonik dan menjadi daerah pegunungan yang kemudian 4 juta tahun yang lalu dilanda dengan aktivitas gunung api yang menghasilkan bukit-bukit yang menjurus utara selatan antara Bandung dan Cimahi, antara lain Pasir Selacau. Pada 2 juta tahun yang lalu aktivitas vulkanik ini bergeser ke utara dan membentuk gunung api purba yang dinamai Gunung Sunda, yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 3000 m di atas permukaaan air laut. Sisa gunung purba raksasa ini sekarang adalah punggung bukit. Sekitar Situ Lembang salah satu kerucut sampingan sekarang disebut Gunung Sunda dan Gunung Burangrang diyakini sebagai salah satu kerucut sampingan dari Gunung Sunda Purba ini. Sisa lain dari lereng Gunung Sunda Purba ini terdapat di sebelah utara Bandung, khususnya sebelah timur Sungai Cikapundung sampai Gunung Malangyang, yang oleh van Bemmelen 1935, 1949 disebut sebagai Blok Pulasari. Pada lereng ini terutama ditemukan situs-situs artefak, yang diteliti lebih lanjut oleh Rothpletz pada zaman Jepang dan pendudukan Belanda di Masa Perang Kemerdekaaan. Sisa lain dari Gunung Sunda Purba ini adalah Bukit Putri di sebelah timur laut Lembang Koesoemadinata, 2001. Gunung Sunda Purba itu kemudian runtuh, dan membentuk suatu kaldera kawah besar yang berukuran 5-10 km yang ditengahnya lahir Gunung Tangkuban Parahu, yang disebutnya dari Erupsi A dari Tangkuban Parahu, bersamaan pula dengan terjadinya patahan Lembang sampai Gunung Malangyang, dan memisahkan dataran tinggi Lembang dari dataran tinggi Bandung. Kejadian ini diperkirakan van Bemmelen 1949 terjadi sekitar tahun yang lalu. Suatu erupsi cataclysmic kedua terjadi sekitar 6000 tahun yang lalu berupa suatu banjir abu panas yang melanda bagian utara Bandung lereng Gunung Sunda Purba sebelah barat Sungai Cikapundung sampai sekitar Padalarang di mana Sungai Citarum Purba mengalir ke luar dataran tinggi Bandung. Banjir abu vulkanik ini menyebabkan terbendungnya Sungai Citarum Purba, dan terbentuklah Danau Bandung. Tahun 90-an, Dam dan Suparan 1992 dari Direktorat Tata Lingkungan Departemen Pertambangan mengungkapkan sejarah geologi dataran tinggi Bandung. Penelitian ini menggunakan teknologi canggih seperti metoda penanggalan pentarikhan radiometri dengan isotop C-14 dan metode U/Th disequilibirum. Dam melakukan pengamatan terhadap perlapisan endapan sedimen Danau Bandung dari 2 lubang bor masing-masing sedalam 60 m di Bojongsoang Kabupaten Bandung dan sedalam 104 m di Sukamanah Kabupaten Bandung; melakukan pentarikhan dengan metoda isotop C-14 dan 1 metoda U/Th disequilibirum; dan pengamatan singkap dan bentuk morfologi di sekitar Bandung. Berbeda dengan Sunardi 1997 yang mendasarkan penelitiannnya atas pengamatan paleomagnetisme dan pentarikhan radiometri dengan metode K-Ar. Simpulan penting adalah bahwa pentarikhan kejadian-kejadian ini jauh lebih tua daripada diperkirakan oleh van Bemmelen 1949, kecuali periode pembentukanGunung Sunda Purba serta kejadian-kejadian sebelumnya. Keberadaan danau purba Bandung dapat dipastikan, bahkan turun naiknya muka air danau, pergantian iklim serta jenis floranya dapat direkam lebih baik van der Krass dan Dam, 1994. Hasil yang diperoleh, pembentukan danau Bandung bukan disebabkan oleh suatu peristiwa ledakan Gunung Sunda atau Tangkuban Parahu, tetapi mungkin karena penurunan tektonik dan peristiwa denudasi dan terjadi pada 125 KA kilo-annum/ribu tahun yang lalu Dam et al, 1996. Keberadaan Gunung Sunda Purba dipastikan antara 2 juta sampai 100 juta tahun yang lalu berdasarkan pentarikhan batuan beku aliran lava, antara lain di Batunyusun timur laut Dago Pakar di Pulasari Schol 1200 juta tahun, Batugantung Lembang 506 kA ribu tahun dan di Maribaya 182 dan 222 kA. Memang suatu erupsi besar kataklismik cataclysmic terjadi pada 105 ribu tahun yang lalu, berupa erupsi Plinian yang menghasilkan aliran besar dari debu panas yang melanda bagian baratlaut Bandung dan membentuk penghalang topografi yang baru di Padalarang Kabupaten Bandung Barat, yang mempertajam pembentukan danau Bandung. Erupsi besar ini diikuti dengan pembentukan kaldera atau runtuhnya Gunung Sunda yang diikuti lahirnya Gunung Tangkuban Parahu beberapa ratus atau ribu kemudian, yang menghasilkan aliran lava di Curug Panganten Kota CImahi 62 ribu tahun yang lalu, sedangkan sedimentasi di danau Bandung berjalan terus. Suatu ledakan gunung api cataclysmic kedua terjadi antara 55 dan 50 ribu tahun yang lalu, juga berupa erupsi Plinian dan melanda Bandung barat laut, sedangkan aliran-aliran lava di Curug Dago dan Kasomalang Subang, terjadi masing-masing 41 dan 39 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, sedimentasi di Danau Bandung berjalan terus, antara lain pembentukan suatu kipas delta purba yang kini ditempati oleh Kota Bandung pada permukaan danau tertinggi. Akhir dari Danau Bandung pun dapat ditentukan pentarikhannya yaitu 16 ribu tahun yang lalu. Asal-Usul Bandung Mengenai asal-usul nama "Bandung", dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata "bandung" dalam bahasa Sunda, identik dengan kata "banding" yang mana dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding Sunda berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka 1994 dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia 1996, bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan. Pendapat lain mengatakan, bahwa kata "bandung" mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen ± 6000 tahun yang lalu. Akibatnya, daerah antara Padalarang Kabupaten Bandung Barat sampai Cicalengka Kabupaten Bandung ± 30 kilometer dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu Kabupaten Bandung Barat sampai Soreang Kabupaten Bandung ± 50 kilometer terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum ± 8000 - 7000 sebelum Masehi. Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad. Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten Bandung sekitar decade ketiga abad ke-17. Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung. Berdirinya Kabupaten Kontraktor Bor Pileebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan "Tatar Ukur". Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan daerah yang disebut "Ukur Sasanga". Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh 1579/1580 akibat gerakan Pasukan banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun pada 1580-1608, dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak sebelah Barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh sekarang bernama Ciamis. Setelah beberapa serangkaian peristiwa, seperti Kekalahan Dipati Agung dan Pembangkangan Dipati Ukur, daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur. Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan "Piagem Sultan Agung", yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam Tahun Alip penanggalan Jawa. Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupaten Bandung tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang. Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula merupakan bagian bawahan dari pemerintah kerajaan Kerajaan Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang dengan status yang tidak jelas, berubah menjadi daerah dengan status administrative yang jelas, yaitu kabupaten. Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung naskah menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka dating ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenanggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungat Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian Selatan sebagai Ibukota Kabupaten. Sebagai daerah pusat kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi kur Gede. Wilayah administrative Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram hingga akhir abad ke-17, belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagian Tanahmedang. Boleh jadi, daerah Priangan di luar Wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar Ukur Ukur Sasanga pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang. Kabupaten Bandung sebagai salah satu Kabupaten yang dibentuk Pemerintah Kerajaan Mataram, dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung memiliki sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis simbol kebesaran, pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupati atas rakyatnya. Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. hak-hak dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, hak memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, hak memperoleh tenaga kerja ngawula, hak berburu dan menangkap ikan dan hak mengadili. Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati Bandung khususnya dan Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerinatahan dan gaya hidup bupati merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu, demang atau kepala cutak kepala distrik, camat pembantu kepala distrik, patinggi lurah atau kepala desa dan lain-lain. Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian Mataram-Kompeni perjanjian pertama tanggal 19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni 1677-1799, Bupati Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni. Sistem pemerintahan kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan, karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal ini bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan bupati wedana dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon sebagai pengawas opzigter daerah Cirebon-Priangan Cheribonsche Preangerlandan. Salah satu kewajiban utama bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni di Cirebon. Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakar fitrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat petani mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni. Bupati-Bupati Bandung Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun merupakan bupati pertama angkatan Mataram yang memerintah sampai tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Anggadireja I 1704-1747, Tumenggung Anggadireja II 1747-1763, R. Anggadireja III dengan gelar Wiranatakusumah I 1763-1794 dan Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1829. Pada masa pemerintahan bupati Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke Kota Bandung. Berdirinya Kota Bandung Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut Desember 1799. Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels 1808-1811. Herman Willem Daendels Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan kondisi Kabupaten Bandung mengalami perubahan. Perubahan yang pertama kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian Selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang terletak di bagian tengah wilayah kabupaten tersebut. Antara Januari 1800 sampai akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing penjajah, karena walaupun Gubernur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi ia sudah tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bagi kepentingan penguasa asing penjajah. Dengan demikian, mereka dapat mencurahkan perhatian bagi kepentingan pemerintahan daerah masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung. Menurut naskah Sadjarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah Utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan bakal Kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu, dan Kampung Bogor. Menurut naskah tersebut, Bupati Wiranatakusumah II pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara selama dua setengah tahun. Semula bupati tinggal di Cikalintu daerah Cipaganti kemudian ia pindah Balubur Hilir. Ketika Deandels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung jembatan di Jl. Asia Afrika dekat Gedung PLN sekarang, Bupati Bandung berada disana. Deandels bersama Bupati melewati jembatan itu kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat depan Kantor Dinas PU Jl. Asia Afrika sekarang. Di tempat itu deandels menancapkan tongkat seraya berkata "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!" Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!". Rupanya Deandels menghendaki pusat kota Bandung dibangun di tempat itu. Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Deandels meminta Bupati Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Deandels itu disampaikan melalui surat tertanggal 25 Mei 1810. Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit surat keputusan tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan besluit, maka secara yuridis formal dejure ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung. Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten. Dapat dipastikan pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung. Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati Wiranatakusumah II adalah pendiri the founding father kota Bandung. Berkembangnya Kota Bandung dan letaknya yang strategis yang berada di bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan Ibukota Keresiden priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan tersebut karena berbagai hal baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 Kota Bandung ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan. Dengan demikian, sejak saat itu Kota Bandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai Ibukota Kabupaten Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Bandung adalah Wiranatakusumah IV 1846-1874. Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung keresidenan di daerah Cicendo sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai dibangun tahun 1867. Perkembangan Kota Bandung terjadi setelah beroperasi transportasi kereta api dari dan ke kota Bandung sejak tahun 1884. Karena Kota Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api "Lin Barat", maka telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung dengan meningkatnya penduduk dari tahun ke tahun. Di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang dan menuntut adanya lembaga otonom yang dapat mengurus kepentingan mereka. Sementara itu pemerintah pusat menyadari kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut dampaknya. Karenanya, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem desentralisasi, bukan hanya desentralisasi dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam pemberian hak otonomi bidang pemerintahan zelfbestuur. Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara 1893-1918 menyambut baik gagasan pemerintah kolonial tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonomi di Kota Bandung, berarti pemerintah kabupaten mendapat dana budget khusus dari pemerintah kolonial yang sebelumnya tidak pernah ada. Berdasarkan Undang-undang Desentralisasi Decentralisatiewet yang dikeluarkan tahun 1903 dan Surat Keputusan tentang desentralisasi Decentralisasi Besluit serta Ordonansi Dewan Lokal Locale Raden Ordonantie sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente kotapraja yang berpemerintahan otonomom. Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan Kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung. Dipimpin oleh Asisten Residen priangan selaku Ketua Dewan Kota Gemeenteraad, tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh burgemeester walikota.
Sebelum munculnya senjata api, pedang adalah senjata paling penting di dunia. Mungkin tidak ada senjata lain yang memiliki dampak seperti itu dalam sejarah dunia. Pedang memainkan peran di hampir setiap budaya di seluruh dunia. Sebagai senjata pilihan para pahlawan, sering kali pedang ditampilkan secara menonjol dalam legenda dan mitos. Ada pedang yang memadukan sejarah dan fiksi yang tak terpisahkan, dengan berbagai kekuatan gaib yang dikaitkan dengan mereka. Fiksi modern juga menyumbang banyak pedang menakjubkan, memperoleh tempatnya dalam budaya pop. Nah, inilah 10 pedang menakjubkan dari legenda dan fiksi. 1. Zulfiqar. Zulfiqar adalah salah satu pedang paling terkenal dalam sejarah Islam. Pedang ini dimiliki oleh Hazrat Ali, yang mendapatkannya sebagai hadiah dari Nabi Muhammad SAW. Ali RA menggunakannya di sejumlah pertempuran, terutama Pertempuran Uhud. Pedang ini juga dipegang oleh Imam Hussain RA selama Pertempuran Karbala. Pedang adalah objek penghormatan dalam budaya Islam. Zulfiqar adalah salah satu dari 10 pedang menakjubkan yang pernah ada dalam sejarah. Secara historis sering digambarkan sebagai pedang berbilah ganda seperti pada bendera Muslim. Dan juga biasanya ditunjukkan dalam penggambaran Ali Syi'ah. Menurut Shi'ite, pedang itu turun dari surga. Meskipun, tidak ada narasi dalam Islam Sunni yang mengatakan bahwa pedang itu turun dari surga, atau bahwa pedang itu bermata dua. 2. Excalibur. Siapa pun yang akrab dengan legenda Arthurian pasti pernah mendengar tentang Excalibur yang terkenal itu. Pedang itu disebut Caledfwlch dalam bahasa Welsh. Pedang ini disebut-sebut sebagai pedang Raja Arthur dan telah sering dikaitkan dengan kedaulatan Britania Raya. Excalibur diberikan kepadanya oleh Lady of the Lake, dan memiliki kekuatan magis. Pedang tersebut tidak bisa dihancurkan dan sarung pedangnya melindungi sang pengguna dari bahaya fisik. Morgan Le Fay, penyihir wanita dan saudara tiri dari Arthur, mencuri pedang itu, meskipun pedang itu kemudian ditemukan kembali tanpa sarungnya. 3. Kusanagi no Tsurugi. Secara harfiah berarti Pedang Pemotong Rumput, Kusanagi-no-Tsurugi adalah salah satu kerajaan di kekaisaran Jepang. Diyakini telah ditemukan dari tubuh ular raksasa. Selain itu, kemudian dioegang oleh prajurit terkenal Yamato Takeru. Selama pertempuran, ia mengetahui bahwa pedang itu bisa mengendalikan angin. Menurut cerita rakyat, pedang itu hilang selamanya dalam pertempuran abad ke-14. 4. Sword of Omens. The Sword of Omens adalah senjata Lion-O, pemimpin ThunderCats dari serial kartun fiksi. Pedang ini punya berbagai kemampuan, seperti kemampuan untuk menyusut menjadi ukuran kecil ketika tidak digunakan. Seperti palu Thor, benda ini juga bisa terbang langsung ke tangan Lion-O ketika dipanggil. Juga bisa menembakkan ledakan energi dan membentuk perisai perlindungan. Tidak jarang juga pedang ini dapat memproyeksikan sinyal untuk memanggil ThunderCats lainnya, tidak seperti yang digunakan oleh Batman. 5. Durendal. Menurut legenda, Durendal adalah pedang Paladin Roland milik Charlemagne. Berbagai kemampuan dikaitkan dengan pedang ini, terlepas dari ketajamannya yang dapat menembus apa pun. Pada satu cerita pedang ini ditempa oleh Wayland the Smith dan diberikan kepada Charlemagne oleh seorang malaikat. Legenda lain mengatakan bahwa ia pernah menjadi milik Hector of Troy. Pedang itu seharusnya berisi berbagai bagian tubuh Santo Petrus, Santo Basil, dan Santo Denis dalam gagang emasnya. 6. Shamshir-e Zomorrodnegar. Secara harfiah berarti "pedang bertabur zamrud", senjata ini muncul dalam legenda Persia Amir Arsalan. Konon dulu pernah menjadi milik Raja Salomo, dan kemudian datang ke tangan seorang penyihir yang pada musim semi berubah menjadi setan bernama Fulad-zereh. Pedang ini adalah satu-satunya hal yang bisa membunuh iblis dan luka yang ditimbulkannya tidak bisa disembuhkan dengan mudah. 7. Joyeuse. Memiliki arti “gembira”, Joyeuse adalah pedang pribadi Charlemagne. Legenda mengatakan bahwa pedang itu mengandung Tombak Longinus. Dulu warnanya bisa berubah sampai tiga puluh kali sehari, di samping berbagai sifat magisnya. Charlemagne menggunakan Joyeuse untuk membunuh komandan Saracen, Corsuble. Pedang itu bahkan memiliki nama kota setelahnya. Pedang, yang diyakini sebagai Joyeuse, disimpan di Louvre. 8. Sword of Gryffindor. The Sword of Gryffindor muncul di salah satu seri sastra anak-anak paling terkenal, Harry Potter. Pedang ini adalah pedang buatan goblin yang dulu dimiliki oleh penyihir hebat Godric Gryffindor. Pedang itu muncul kapan pun seorang Gryffindor sejati benar-benar membutuhkannya. Harry Potter menggunakannya untuk menusuk Basilisk hingga mati di tahun keduanya di sekolah sihir Hogwarts, sehingga meningkatkan efeknya. Neville Longbottom juga pernah menghunus pedang ini, yang dengannya dia membunuh Nagini, ular peliharaan Voldemort. 9. Glory of Ten Powers. Tidak mengherankan bahwa pedang ini termasuk pedang dari legenda Tiongkok, mengingat kekayaan mereka. The Glory of Ten Powers adalah pedang yang ditempa oleh pasangan ajaib di Tibet. Dikatakan bahwa roh memasuki pedang pada saat penempaan, terinspirasi oleh cinta antara pasangan itu, dan hasilnya memberikan pedang dengan kekuatan magis. Namun, dikatakan telah dihancurkan kemudian oleh musuh pasangan itu. 10. Stormbringer. Stormbringer adalah pedang yang dipegang oleh Elric dari Melnibon, seorang penyihir aliran gelap dan protagonis dari serangkaian cerita fantasi dan novel karya Michael Moorcock. Pedang itu jahat, karena memakan jiwa siapa pun yang dibunuhnya, dan merusak penggunanya. Pedang ini memberi energi untuk mendukung Elric yang lemah. Namun dia menjadi sering membunuh teman-temannya juga. Elric juga tidak bisa menyingkirkan pedang ini saat ia ingin menyingkirkannya karena pedang ini Stormbringer adalah pedang ajaib. Selain itu, ini ditampilkan dalam beberapa kisah fantasi oleh penulis Michael Moorcock. Stormbringer dibuat oleh pasukan Chaos. Juga, itu digambarkan sebagai pedang hitam besar yang dilengkapi dengan rune aneh yang diukir jauh ke dalam bilahnya.
- Gunung Padang adalah situs kuno yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Keberadaan situs seluas meter persegi ini sempat mengundang perhatian publik beberapa waktu lalu karena diklaim sebagai struktur piramida bagaimana sejarah penemuannya? Baca juga Gunung Padang Bangunan Tertua di Dunia? Sejarah penemuan Gunung Padang Dilansir dari situs Universitas Indonesia, Gunung Padang sebenarnya sudah diketahui keberadaannya ketika ditemukan oleh N. J. Krom. Ia menemukan situs ini pada 1914 silam dan dilaporkan olehnya dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst. Pada saat itu, N. J. Krom tidak menyebutkan nama situs yang ditemukan sebagai Gunung Padang. N. J. Krom hanya menyebutkan bahwa dirinya menemukan situs baru yang lokasinya berdekatan dengan Gunung Melati. Dari situlah, Gunung Padang menjadi tempat penelitian, diperbincangkan publik, hingga ditemukan peninggalan purbakala tahun 1979. Penemuan peninggalan purbakala dilaporkan oleh seorang warga dan sejak tahun 1979 penelitian digelar oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Badan tersebut sempat melakukan eksavasi penggalian pada teras 4 dan 5 Gunung Padang. Baca juga Gunung Padang di Cianjur, Punya Situs Megalitikum Terbesar di Asia Tenggara Peninggalan zaman mengalitikum Berdasarkan pengamatan peneliti diketahui bahwa Gunung Padang adalah situs dengan bentuk pundek berundak. Dilansir dari Peta Budaya Belajar Kemdikbud, situs ini adalah peninggalan masa prasejarah, tepatnya zaman megalitikum atau batu bahwa Gunung Padang adalah sisa-sisa dari zaman megalitikum dapat dilihat dari tinggalan bebatuan tempat pemujaan. Tempat pemujaan tetap berdiri tegak sampai sekarang, namun terjadi kerusakan secara internal maupun eksternal pada situs ini. Kerusakan internal Gunung Padang disebabkan oleh tumbuh-tumbuhan liar dan erosi. Sementara kerusakan eksternal disebabkan oleh aktivitas wisata yang tidak terkendali, aksi vandalisme, dan batu yang diduduki atau dipukul. Faktor-faktor tersebut menyebabkan banyak dari batu punden menjadi aus, lepas, miring, retak, patah, bahkan jatuh ke lereng dan kaki bukit. Baca juga Misteri Situs Gunung Padang di Jawa Barat Diungkap dalam Pertemuan AGU Kompleks pundek berundak terbesar di Asia Tenggara Shutterstock/Uskarp Situs Megalitikum di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Dikutip dari Gunung Padang ternyata tercatat sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Terdapat lima teras pada situs ini yang memiliki ukuran berbeda-beda dan batuannya berasal dari andesit dengan panjang sekitar satu meter dan berbentuk tiang-tiang. Masing-masing teras pada Gunung Padang memiliki fungsi. Salah satunya adalah teras pertama yang tercatat sebagai bagian terluas. Teras pertama tersusun atas batu dengan jumlah batuan paling banyak, tetapi jumlahnya semakin sedikit menuju ke arah atas. Baca juga Situs Gunung Padang, Situs Megalitik Terbesar di Asia Tenggara Klaim piramida tertua Sementara itu, National Geographic melaporkan bahwa klaim Gunung Padang adalah struktur piramida tertua di dunia bermula dari pemaparan peneliti asal Indonesia pada American Geophysical Union tahun 2018. Klaim tersebut didasarkan pada Gunung Padang berbeda dari bukit biasa setelah peneliti melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Pasalnya, situs ini memiliki serangkaian struktur kuno yang usia fondasinya sekitar 10 ribu tahun lalu bahkan bisa berusia lebih tua. Peneliti juga menerangkan, lapisan pertama dari Gunung padang usianya sekitar tahun berdasarkan penanggalan radikokarbon. Sedangkan, lapisan kedua dari situs ini usianya sekitar tahun dan lapisan ketika berusia sekitar tahun. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Sejarah Kota Padalarang, Asal Usul Hingga Perkembangannya Kini– Kota Padalarang merupakan salah satu dari wilayah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Letaknya hanya sekitar 7 kilometer dari pusat kota Bandung Barat, dengan pusat pemerintahan yang berlokasi di Desa Jayamekar. Secara definitif tercatat sebagai daerah tingkat II, mengikuti Kabupaten Bandung wilayah Barat yang berstatus sama. Keputusan tersebut juga sudah sesuai dengan UU No 12 Tahun 2007, tentang Pembentukan Kabupaten Bandung wilayah Barat di Prov Jabar. Padalarang sendiri berbatasan langsung dengan Kota Purwakarta, tepatnya Sagalaherang, Cisalak, dan Kota Cimahi. Wilayahnya merupakan dataran terendah pada 125 m dpl yang terbilang subur. Perkembangan kota ini terlihat secara signifikan tanpa melepaskan sejumlah identitas masa lalunya. Sejarah Awal Kota Padalarang Berkaitan dengan Dipati Ukur Berdasarkan sumber dari masyarakat setempat, sejarah nama Padalarang memiliki keterkaitan erat dengan Dipati Ukur. Kala itu Dipati Ukur sedang melakukan pelarian dari tentara Belanda bersama pasukannya. Mereka memasuki wilayah Desa Jaya Mekar dan melakukan permusyawaratan di sana. Sayangnya selama dilakukan perundingan, terdapat sejumlah pasukan yang melawan perintah Dipati Ukur. Hingga menyebabkan jatuhnya perintah hukuman gantung, peristiwa ini menyebabkan munculnya nama Kampung Gantungan. Sementara persenjataan yang dimiliki para pasukan pembangkang Dipati Ukur dikuburkan. Tujuannya agar tentara Belanda tidak dapat menemukan jejak keberadaan mereka kala itu. Daerah Cipadangmanah dipilih sebagai lokasi menguburkan senjata-senjata berupa keris, tombak, dan pedang. Hal ini pula menjadi cikal bakal tercetusnya kata Padang Larang yang kemudian berganti menjadi Padalarang. Lokasi Kampung Gantungan tidaklah jauh dari pusat pemerintahan Padalarang, Desa Jaya Mekar. Kota Padalarang terbagi atas 10 desa, yaitu Kertamulya, Cimerang, Cimerang, Campakamekar, Tagogapu, Ciburuy, Kertajaya, Cipeundeuy, Jaya Mekar, dan Laksana Mekar. Pada Kecamatan Padalarang terdapat pabrik lawas yang mengawali perkembangan kertas di Indonesia, bernama Fabriek. Fabriek telah beroperasi sejak tahun 1922 di bawah kepemimpinan Hoyer. Sebagai cabang pertama NV Papier Fabriek Nijmegen di Belanda. Kemudian selang 13 tahun pabrik kertas yang sama membuka cabangnya di Leces, Probolinggo, Jawa Timur. Kini pabrik tersebut merupakan tempat produksi kertas spesial dengan pengamanan khusus. Speciality paper adalah kertas dengan tanda air yang bisa kita terawang. Umumnya akan dipergunakan untuk membuat akta negara, ijazah, dan dokumen penting lainnya. Wilayah yang Kaya Bangunan Bersejarah Kota Padalarang disebut wilayah yang layak dijadikan sebagai kota tuanya Bandung Barat. Pemikiran ini tercetus lantaran cukup banyak bangunan tua peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh. Bukan sembarang bangunan saksi sejarah melainkan jejak peninggalan Hindia Belanda. Warisan bangunan bersejarah berhasil pihak Indonesia Hidden Heritage atau IHH temukan. IHH pula yang menjadi pencetus ide awal, menjadikan Padalarang sebagai salah satu destinasi kota tua Bandung di wilayah Barat. Setidaknya ditemukan empat heritage building dengan peranan penting bagi kehidupan masyarakat di masa lalu. Salah satunya sudah dijelaskan yaitu pabrik kertas, kemudian disusul stasiun tua yang beroperasi sejak 1884, kawedanan yang difungsikan sebagai Kantor DPRD KBB, dan komplek perumahan pejabat pabrik kertas di Gedong Lima. Upaya merealisasikan rencana Kota Tua di Padalarang, tergolong dalam usaha menaikan potensi ekonomi. Sejauh ini Goa Pawon telah lebih dulu dimulai sebagai pengembangan proyek wisata prehistoric. Disparbud pun dengan serius mengajak Institut Teknologi Nasional, dalam melakukan kajian arsitektur bangunan tua yang disebutkan. Hasil kajian itu direncanakan akan menjadi acuan untuk merealisasikan proyek Kota Tua. Bahkan Disparbud mengemasnya sebagai program kampus, dimana mahasiswa program arsitektur Itenas menggunakan pengetahuannya untuk kepentingan masyarakat luas. Program Kota Tua bertujuan melindungi kondisi cagar bangunan agar tidak tergerus modernisasi. Perlindungan atas kelangsungan eksistensi bangunan tua di wilayah Padalarang. Merujuk pada masifnya pertumbuhan pembangunan kota baru yang modern. Dengan begitu keseimbangan antara modernisasi perekonomian dengan sejarah masa lalu mampu berjalan seiring. Pemerintah daerah beranggapan jika sesuatu yang berpotensi menaikkan perekonomian masyarakat. Seharusnya tidak dilepaskan begitu saja, mengingat Jakarta dan Semarang juga sukses memperoleh pendapatan dari The Heritage City. Memiliki Masjid dengan Bangunan Terbaik Sedunia Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam, yang berfungsi sebagai tempat sujud, berdoa, sembahyang, dan kegiatan ibadah lainnya. Ada hal istimewa di Padalarang, lantaran Masjid Al Irsyad Satya terletak di sana. Masjid tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai The Best World Building pada tahun 2011. Penghargaan bangunan terbaik yang diarahkan kepada Masjid Al Irsyad untuk kategori bangunan religi. Versi Archdaily and Green Leadership Award dengan penyelenggara BCI Asia pada tahun 2011. Sontak bukan hanya masyarakat setempat yang kerap beribadah khusus di bangunan megah tersebut. Melainkan datang pula dari sejumlah jemaah dari wilayah seperti Kota Bandung, Cimahi, Purwakarta, Garut, Subang, Jakarta, dan masih banyak lagi. Pembangunan Masjid Al Irsyad terletak di Kota Baru Padalarang, tepatnya pada 7 September 2009, jika dalam kalender Islam waktu itu adalah 17 Ramadhan 1430 H. Lama waktu pengerjaan hanya satu tahun untuk merampungkannya. Lantaran Agustus 2010, masjid diresmikan dan terbuka bagi jemaah yang hendak beribadah. Bangunan Masjid berdiri megah di atas areal dengan luas 1 hektar, serta terintegrasi langsung dengan Al Irsyad Satya Islamic School. Sekolah merupakan afiliasi dengan Madrasah Al Irsyad Al Islamiyah bertaraf Internasional. Kemegahan rumah ibadat Al Irsyad sejatinya hasil buah pemikiran Ridwan Kamil. Kala itu beliau masih menjabat sebagai Walikota Bandung. Bangunan terinspirasi dari bentuk Kabah di Mekah yang berbentuk kubus, mampu menampung hingga 1500 jemaah sekaligus. Sedangkan Fasad Masjid dibuat dengan susunan concrete block berbentuk kaligrafi. Bila diperhatikan secara khusus maka dapat terbaca susunan kalimat As Syahadah. Pembangunan Modernisasi Kota Padalarang Terkini Kota Baru Padalarang memiliki desain berbeda dengan Kota Lama, selain itu modernisasi pembangunan juga diakui mempunyai ciri khas tersendiri. Proses pembangunan dimulai sejak sembilan belas tahun yang lalu. Mengusung konsep pertama sebagai kota satelit, dengan harapan bisa menjadi kota pendidikan bagi masyarakat Jawa Barat. Demi mewujudkan rencana modernisasi tersebut, kota baru lantas dilengkapi dengan sejumlah fasilitas memadai. Tujuannya agar masyarakat dapat pindah dan tinggal tanpa mengalami kesulitan memenuhi kebutuhannya. Fasilitas umum yang tersedia seperti taman, pusat perkantoran, hotel, mall, destinasi wisata, sekolah, dan banyak lagi. Bahkan berdasarkan sektor wisata Padalarang, daya tarik utama yang mendatangkan pengunjung dari sejumlah kota layaknya Bandung, Jakarta, Cianjur, Subang, Garut, dan Purwakarta. Yaitu wisata berbentuk cagar budaya tradisional Sunda. Dimana dari tempat tersebut kerap mengadakan kompetisi tingkat global. Selain itu Puspa Iptek turut menjadi identitas baru Kota Padalarang, lewat kehadiran Sundial. Sundial alias jam matahari satu ini merupakan yang pertama dan terbesar sedunia. Ketinggian bangunan mencapai 20 meter dan berfungsi sebagai jam horizontal atau vertical. Jam matahari secara khusus diresmikan oleh Menristek. Puspa Iptek adalah pusat bagi peragaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan hal berlebihan menyebut Sundial adalah ciri khas kota yang baru, terbukti pada Mei 2002 Museum Rekor Indonesia mencatatnya sebagai jam matahari terbesar di Indonesia. Jam juga menunjukkan bulan dari Januari hingga Desember. Modernisasi Kota Padalarang juga terfasilitasi berkat kehadiran kawasan komersial. Mulai dari menawarkan konsep alam eksotis yang terpadu dengan wisata kuliner. Membuat masyarakat bisa menikmati santapannya, sekaligus melihat etnik budaya tradisional dari alam terbuka. Pembangunan Fasilitas Umum Semakin Lengkap Masyarakat yang berdomisili di Kota Padalarang tidak lagi harus mengunjungi mall-mall di Bandung. Pasalnya pusat perbelanjaan yang tersedia kini, tidak kalah bagus dari Paris van Java Mall, Citywalk, Festival Citylink ataupun Miko Mall. Demikian halnya pula dengan keinginan melihat karya seni seperti yang terpampang di Galeri Wayang Golek Cupumanik, atau NuArt Sculpture Park. Cobalah pergi ke pusat wisata budaya bernama Bale Seni Barli. Taman pun menjadi pertimbangan pembangunan fasilitas umum, semua dirancang secara tematik bahkan dapat menyamai keindahan Taman Begonia Lembang. Sumber hiburan teater alias bioskop bagi masyarakat Kota Baru juga menyamai kecanggihan sejumlah kota besar. Amazing 4D Theatre diakui sebagai yang tercanggih sekota Bandung. Berminat mengunjunginya bisa mengambil akses jalan tol Purbaleunyi dan keluar dari tol Padalarang. Shuttle bus juga tersedia dengan rute terminal Leuwi Panjang. Demikianlah sejarah dan perkembangan kota Padalarang hingga hari ini.
asal usul pedang di gunung padalarang